Manado,SULUT.TARGETJURNALIS.Com-Pengamat politik dari Universitas Lampung Bendi Juantara menyebut ada dua aspek yang menjadi pertimbangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam melakukan perombakan Kabinet Indonesia Maju. Yakni, aspek kinerja dan politik.
Dari sisi kinerja, menurut Bendi, reshuffle kabinet akan menyasar menteri-menteri yang kinerjanya menurun dan tidak lagi sejalan dengan visi dan misi Presiden Jokowi. “Menteri yang kinerjanya dinilai turun dan sudah tidak lagi sejalan peluang digantinya akan semakin besar,” kata Bendi, dalam keterangan yang diterima Senin, 30 Januari 2023.
Dikutip dari viva.co.id Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung ini melihat, pemerintah Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin memiliki tantangan besar. Di tengah masa pemerintahan yang masih cukup panjang, Indonesia harus menghadapi ancaman resesi ekonomi, krisis pangan dan energy.
Selain itu, Presiden Jokowi juga masih menargetkan beberapa isu prioritas bisa segera diselesaikan. Mulai dari hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam, optimalisasi sumber energy bersih dan peningkatan ekonomi hijau, hingga digitalisasi ekonomi bagi UMKM.
“Dengan begitu Jokowi butuh menteri yang dapat membantunya menjalankan program kerja yang tepat sasaran,”ujarnya
Dari sisi politik, Bendi menilai, reshuffle kabinet adalah konsekuensi politik dari tim koalisi yang dibangun. Munculnya nama beberapa menteri dari partai koalisi yang akan diganti, menunjukkan sudah tidak ada lagi kecocokan dan kesamaan visi dan misi. Terlebih, bagi beberapa menteri lebih fokus mempersiapan Pemilu 2024.
Isu kuat yang didapat dari media ini Jerry Sambuaga akan naik menjadi mendag dan mendag akan kembali ke jabatan dulu menteri lingkungan hidup dan kehutanan. kalau untuk menteri kominfo memang akan di ganti. tapi paling peluang naik menjadi mendag. (**/JM)


